Daftar Isi
Ingin makan es krim, tapi lagi lebih perhatian sama apa yang masuk ke tubuh? Tenang, kamu nggak harus langsung mengucapkan selamat tinggal pada dessert favorit. Yang penting, tahu apa yang ada di balik kemasan dan bagaimana memilihnya.
Istilah “es krim sehat” memang makin sering muncul, terutama di tengah tren healthy dessert dan gaya hidup yang lebih sadar nutrisi. Tapi perlu dicatat: “es krim sehat” bukan berarti semua produk dengan label tersebut otomatis lebih baik untuk setiap orang. Yang lebih penting adalah melihat komposisi, informasi nilai gizi, ukuran porsi, serta klaim pada label secara kritis.
Menurut WHO, pola makan sehat dibangun dari empat prinsip utama: kecukupan, keseimbangan, moderasi, dan keberagaman. Jadi, dessert tetap bisa menjadi bagian dari pola makan, selama dikonsumsi secara proporsional dan sesuai kebutuhan masing-masing.

Apa Itu Es Krim Sehat?
Secara sederhana, es krim sehat biasanya digunakan untuk menggambarkan produk es krim atau frozen dessert yang memiliki profil bahan dan nutrisi yang lebih diperhatikan, misalnya kandungan gula atau lemak yang lebih terkendali, penggunaan bahan tertentu, atau adanya bahan pangan seperti buah.
Namun, jangan berhenti di kata “sehat” pada kemasan. Klaim tersebut perlu dilihat bersama informasi yang lebih konkret.
Misalnya, apakah produk menggunakan buah sebagai salah satu bahan utamanya? Berapa kandungan gula dan lemaknya? Apakah komposisinya mudah dipahami? Apakah produk memiliki izin edar dan informasi label yang jelas?
Untuk pangan olahan di Indonesia, BPOM menjelaskan bahwa label harus benar, tidak menyesatkan, dan menunjukkan keadaan sebenarnya. Daftar bahan juga disusun berdasarkan jumlah penggunaannya, mulai dari bahan yang digunakan paling banyak.
Jadi, kalau kamu sedang memilih es krim untuk menemani gaya hidup yang lebih mindful, jangan cuma terpikat tulisan besar di bagian depan kemasan. Tapi, lihat juga bagian belakangnya. Di situlah biasanya informasi penting bersembunyi.

Perbedaan Utama dengan Es Krim Konvensional
Perbedaan antara es krim yang dianggap “lebih sehat” dan es krim konvensional tidak selalu sesederhana “yang satu sehat, yang satu tidak”. Produk frozen dessert punya formula yang berbeda-beda, sehingga komposisinya perlu dilihat satu per satu.
1. Bahan baku
Bahan baku sangat menentukan karakter produk. Es krim konvensional umumnya dapat menggunakan kombinasi susu atau bahan susu, gula, lemak, stabilizer, emulsifier, perisa, dan bahan lainnya.
Sementara itu, produk yang menonjolkan buah dapat menggunakan buah sebagai bagian penting dari formulanya. Kehadiran buah bisa memberikan karakter rasa, aroma, warna, dan tekstur yang berbeda.
2. Kadar gula
Gula adalah salah satu hal penting yang perlu diperhatikan ketika memilih dessert.
WHO merekomendasikan konsumsi free sugars kurang dari 10% total energi harian, dengan pengurangan hingga di bawah 5% sebagai pilihan yang dapat memberikan manfaat tambahan. Free sugars mencakup gula yang ditambahkan ke makanan atau minuman serta gula yang secara alami terdapat dalam madu, sirup, jus buah, dan konsentrat jus buah.
Kemenkes juga memberikan acuan konsumsi gula maksimal 50 gram atau sekitar 4 sendok makan per orang per hari dalam konteks anjuran pembatasan gula, garam, dan lemak.
Karena itu, “lebih sehat” bukan berarti es krim harus bebas gula atau rasanya tidak boleh manis. Yang lebih penting adalah melihat jumlah gula dalam konteks keseluruhan pola makan dan porsi yang dikonsumsi.
3. Proses produksi dan formulasi
Proses produksi juga memengaruhi hasil akhir. Pengolahan frozen dessert membutuhkan formulasi yang tepat agar produk memiliki tekstur, stabilitas, rasa, dan daya simpan yang sesuai.
Penggunaan bahan tambahan pangan sendiri tidak otomatis berarti suatu produk tidak baik. BPOM menjelaskan bahwa bahan tambahan pangan dapat digunakan untuk tujuan teknologi tertentu, seperti membantu menjaga mutu, kestabilan, penampilan, cita rasa, atau daya simpan, selama digunakan sesuai jenis, fungsi, dan batas yang ditetapkan.
Jadi, jangan terjebak pada anggapan bahwa semua bahan yang namanya terdengar “ilmiah” pasti buruk. Sebaliknya, jangan pula menganggap sebuah produk otomatis sehat hanya karena mengklaim menggunakan bahan alami.
Kuncinya tetap sama: cek komposisi dan informasi nilai gizinya.
Â
Kandungan yang Perlu Diperhatikan
Kalau kamu ingin lebih jeli memilih es krim, ada beberapa hal yang bisa masuk radar.
Pemanis alami vs. pemanis non-gula
Pemanis bisa berasal dari berbagai sumber. Gula, madu, sirup, dan bahan lain dapat memberikan rasa manis, sementara produk tertentu juga menggunakan pemanis non-gula.
Yang penting, jangan menyamakan “alami” dengan otomatis “lebih sehat”. WHO menekankan bahwa pengurangan konsumsi free sugars sebaiknya dilakukan sebagai bagian dari pola makan sehat, bukan sekadar mengganti gula dengan pemanis non-gula.
Karena itu, lebih bijak melihat jumlah gula total, jenis bahan, dan keseluruhan komposisi, bukan hanya satu kata seperti “natural” atau “sugar-free”.
Lemak
Lemak merupakan zat gizi penting, tetapi jenis dan jumlahnya tetap perlu diperhatikan.
WHO merekomendasikan agar lemak jenuh dibatasi hingga kurang dari 10% energi harian dan lemak trans kurang dari 1%. WHO juga menganjurkan mengganti sebagian lemak jenuh dan lemak trans dengan lemak tak jenuh, terutama yang berasal dari sumber nabati.
Pengawet dan bahan tambahan
Produk tanpa pengawet bisa menjadi salah satu preferensi konsumen, tetapi “tanpa pengawet” bukan satu-satunya ukuran kualitas pangan.
Jika sebuah produk mencantumkan klaim tersebut, tetap periksa daftar bahan dan informasi lainnya. BPOM mengatur bahwa daftar komposisi pangan olahan mencakup bahan baku dan bahan tambahan pangan yang digunakan sesuai ketentuan.
Ciri-Ciri Es Krim Sehat yang Layak Dipilih
Tidak ada satu formula yang otomatis membuat sebuah es krim “sehat” untuk semua orang. Namun, kalau kamu sedang mencari pilihan yang lebih sesuai dengan gaya hidup mindful, beberapa hal berikut layak diperhatikan:
- Ada informasi izin edar yang jelas. Untuk produk pangan olahan, perhatikan nomor izin edar dan informasi produsen pada kemasan. BPOM juga menyediakan informasi terkait ketentuan label pangan olahan.
- Ada informasi halal yang valid bila dipersyaratkan. Sertifikasi halal di Indonesia berada dalam ekosistem BPJPH, yang juga menyediakan layanan pengecekan produk halal.
- Komposisinya mudah dibaca dan dipahami. BPOM mengatur agar daftar bahan dicantumkan berdasarkan urutan jumlah penggunaannya.
- Perhatikan porsi. Produk dengan kandungan tertentu yang lebih rendah tetap perlu dikonsumsi dalam jumlah yang sesuai kebutuhan dan pola makan keseluruhan.
Satu hal lagi yang penting: “tanpa pengawet” tidak otomatis berarti rendah gula atau rendah kalori, begitu juga “mengandung buah” tidak otomatis berarti bebas gula. Setiap klaim punya konteksnya sendiri.

Es Krim Sehat dari Paletas Wey
Nah, kalau kamu mencari frozen treat yang mengutamakan bahan buah, ada pilihan yang bisa kamu cek dari Paletas Wey.
Paletas Wey menghadirkan varian dengan klaim 100% real fruit, tanpa pengawet, halal, dan BPOM, sebagaimana ditampilkan pada materi produk dan kemasan yang tersedia.
Varian buah seperti Lime Strawberry dan Watermelon Lime, misalnya, menonjolkan buah sebagai bagian dari identitas produknya. Materi produk juga menampilkan informasi seperti berat bersih, penyimpanan, serta informasi produksi dan regulasi pada kemasan.
Tapi tetap, prinsipnya sama: Paletas Wey bukan “jalan pintas” untuk pola makan sehat. Es krim tetaplah dessert, jadi nikmati sesuai porsi dan kebutuhan kamu.
Yang membuatnya menarik adalah ketika kamu ingin menikmati sesuatu yang dingin, fruity, dan menyenangkan sambil tetap memperhatikan apa yang ada di dalam produknya. Karena hidup sehat juga nggak harus selalu serius, kan? Kamu bisa mencoba Paletas Wey sebagai dessert dingin dan manis, namun tetap memperhatikan kesehatan.
Pilih varian favoritmu sekarang! → Kalatog Menu

