Es Krim Asli Indonesia: Paletas Wey, Cerita Brand Lokal dari Bali

Daftar Isi

Indonesia punya banyak alasan untuk bangga pada kekayaan kulinernya. Bukan cuma makanan berat atau jajanan tradisional, bahan-bahan lokal juga bisa diolah menjadi produk modern yang dekat dengan gaya hidup sehari-hari.

Salah satunya adalah es krim.

Di negara tropis seperti Indonesia, dessert dingin tentu punya tempat tersendiri. Apalagi ketika rasa yang ditawarkan tidak cuma cokelat atau vanila, tetapi juga mengambil inspirasi dari buah dan bahan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Dari sinilah cerita brand es krim lokal menjadi menarik. Sebuah produk bisa lahir dari ide sederhana, mengambil inspirasi dari tempat asalnya, lalu perlahan berkembang ke lebih banyak kota dan kanal penjualan.

Paletas Wey Es Krim Indonesia

Paletas Wey adalah salah satu brand es krim yang memulai perjalanan tersebut dari Bali.

Didirikan pada 2015, Paletas Wey hadir dengan konsep paletas yang terinspirasi dari buah-buahan lokal.

Belum perlu menyebutnya “mendunia”. Perjalanannya saat ini justru lebih menarik kalau dilihat dari bagaimana sebuah brand es krim lokal Indonesia tumbuh dan membangun tempatnya sendiri di pasar dalam negeri.

Perkembangan Brand Es Krim Lokal di Indonesia

Kalau dulu pilihan es krim terasa cukup sederhana, sekarang kategorinya jauh lebih beragam.

Ada es krim klasik, gelato, frozen yogurt, sorbet, hingga berbagai frozen dessert dengan bahan dan konsep yang lebih spesifik. Konsumen pun semakin mudah menemukan produk dengan karakter rasa yang berbeda.

Perubahan ini membuka ruang bagi brand lokal untuk menawarkan sesuatu yang punya identitas sendiri.

Indonesia punya kekayaan bahan pangan yang bisa menjadi sumber inspirasi. Buah tropis seperti mangga, kelapa, semangka, alpukat, durian, dan berbagai jenis buah lainnya memiliki karakter rasa yang kuat dan mudah dikenali.

Bagi brand es krim, bahan-bahan tersebut bisa menjadi titik awal untuk menciptakan pengalaman yang berbeda. Rasa lokal tidak harus selalu hadir dalam bentuk makanan tradisional. Kadang, ia bisa muncul dalam sesuatu yang sesederhana es krim dingin di hari yang panas.

Namun, ada satu hal yang perlu dibedakan. Es krim berbahan buah tetap merupakan frozen dessert dan tidak dapat disamakan dengan konsumsi buah utuh.

WHO merekomendasikan orang berusia di atas 10 tahun mengonsumsi setidaknya 400 gram buah dan sayuran per hari sebagai bagian dari pola makan sehat. WHO juga menekankan prinsip kecukupan, keseimbangan, moderasi, dan keberagaman dalam pola makan.

Jadi, ketika buah menjadi inspirasi sebuah produk es krim, konteksnya tetap pada bahan, rasa, dan pengalaman produk. Bukan berarti produk tersebut menggantikan kebutuhan konsumsi buah sehari-hari.

Nah, justru di sinilah produk lokal punya ruang untuk bereksperimen.

Apa yang Membuat Brand Lokal Bisa Masuk Pasar Premium?

Menjadi brand lokal tentu tidak otomatis berarti sebuah produk bisa masuk ke pasar premium. Ada proses panjang di belakangnya.

Untuk produk makanan dan minuman, rasa hanyalah salah satu bagian dari keseluruhan pengalaman. Ada konsistensi, keamanan pangan, kualitas bahan, kemasan, distribusi, hingga kemampuan memenuhi standar dan kebutuhan mitra.

Es Krim Sehat Paletas Wey

Punya identitas yang mudah dikenali

Brand yang kuat biasanya punya alasan yang jelas kenapa produknya berbeda.

Paletas Wey memilih paletas sebagai format produknya dan menjadikan buah sebagai salah satu bagian penting dari identitas brand. Ide Paletas Wey terinspirasi dari kekayaan buah lokal di Bali dan kemudian dikembangkan sejak 2015.

Identitas seperti ini membuat sebuah brand punya cerita yang lebih mudah diingat.

Bukan hanya “es krim rasa X”, tetapi ada konteks di baliknya: dari mana inspirasinya, kenapa rasa tersebut dipilih, dan bagaimana produk itu berkembang.

Menjaga konsistensi produk

Ini bagian yang mungkin tidak terlalu kelihatan dari luar, tetapi sangat penting.

Ketika sebuah produk mulai hadir di banyak lokasi, tantangannya berubah. Bukan lagi sekadar membuat produk yang enak, tetapi memastikan kualitasnya tetap konsisten dari satu tempat ke tempat lainnya.

Bagi konsumen, konsistensi mungkin terasa sederhana: ketika membeli rasa favorit, ekspektasinya ya tetap sama.

Bagi brand, menjaga ekspektasi tersebut membutuhkan proses yang jauh lebih panjang.

Memperhatikan keamanan pangan

Produk pangan juga tidak bisa hanya mengandalkan kemasan yang menarik atau rasa yang enak.

Aspek keamanan pangan, proses produksi, penyimpanan, informasi produk, serta ketentuan yang berlaku perlu diperhatikan seiring perkembangan sebuah brand.

Dalam informasi resminya, Paletas Wey juga mencantumkan keamanan pangan dan HACCP sebagai bagian dari proses partnership.

Hal-hal seperti ini mungkin tidak langsung terlihat ketika kamu membuka freezer dan memilih es krim. Tapi justru bagian “di balik layar” tersebut yang membantu sebuah produk berkembang secara lebih serius.

Bisa membawa inspirasi lokal ke format modern

Salah satu hal yang menarik dari produk lokal adalah kemampuannya mengolah sesuatu yang familiar menjadi pengalaman baru.

Paletas Wey memiliki pilihan rasa yang mencakup Watermelon Lime, Lime Strawberry, Strawberry Kiwi, Mango Strawberry, Coconut, Durian, Choco Avocado, hingga Klepon dalam perjalanan dan koleksi produknya.

Ada rasa buah yang terasa ringan dan segar. Ada juga rasa yang mengambil inspirasi dari bahan atau cita rasa yang lebih dekat dengan kuliner Indonesia.

Hasilnya bukan sekadar mencoba membuat sesuatu terlihat “lokal”. Ada usaha untuk menjadikan bahan dan rasa tersebut bagian dari karakter produk.

Dan ini yang membuat kategori es krim lokal semakin seru: satu freezer bisa berisi banyak cerita.

Paletas Wey, Es Krim Asli Indonesia dari Bali

Paletas Wey memulai perjalanan di Bali pada 2015. Paletas Wey lahir dari inspirasi terhadap buah-buahan lokal yang tersedia di Bali, kemudian dikembangkan menjadi konsep paletas dengan karakter rasa yang segar.

Perjalanan tersebut dimulai dari sebuah toko kecil di Jalan Mertanadi, Bali, dengan empat rasa yang diproduksi secara artisan. Dari titik kecil tersebut, Paletas Wey kemudian berkembang dan memperluas jangkauannya ke berbagai kota di Indonesia.

Dalam cerita 10 tahun perjalanannya, Paletas Wey mencatat kehadiran di berbagai wilayah seperti Bali, Bandung, Jabodetabek, Malang, Medan, Palembang, Pekanbaru, Surabaya, Semarang, Yogyakarta, Lombok, hingga Timika.

Paletas Wey saat ini mencantumkan sejumlah partner hotel, resort, restoran, dan kanal hospitality di Indonesia. Di antaranya Bulgari Resort Bali, Marriott's Bali Nusa Dua Gardens, Grand Hyatt, Sofitel Bali Nusa Dua Beach Resort, Novotel, dan La Brisa.

Kehadiran di tempat-tempat tersebut bukan berarti Paletas Wey sudah menjadi brand internasional. Dan memang, tidak perlu dibesar-besarkan sampai ke sana.

Yang menarik justru perjalanan domestiknya: sebuah brand es krim yang lahir di Bali bisa berkembang dari skala kecil dan kemudian hadir di berbagai lingkungan hospitality premium di Indonesia.

Itu sudah menjadi cerita yang cukup menarik.

Kenapa Produk Lokal Layak Dibanggakan?

Ada anggapan bahwa sesuatu akan terasa lebih premium ketika datang dari luar negeri.

Padahal, tidak selalu begitu.

Produk lokal juga bisa punya kualitas, identitas, dan pengalaman yang kuat. Yang membedakan bukan semata-mata asal negaranya, tetapi bagaimana sebuah produk dikembangkan dan dijaga dari waktu ke waktu.

Buat Paletas Wey, Bali menjadi bagian penting dari cerita tersebut.

Bukan hanya karena brand ini lahir di Bali, tetapi karena inspirasi terhadap buah lokal dan suasana pulau tersebut ikut membentuk karakter produk. Dalam cerita perjalanan sejak tahun 2015, Paletas Wey juga bekerja sama dengan petani buah dari Bali, Jawa, hingga Maluku.